Marwah Kalam Dusta dan Kalam Jujur
“Marwah Kalam Dusta
dan Kalam Jujur”
Manusia
adalah makhluk berkalam. Secara etimologi
kalam diserap dari bahasa ‘Arab yang memiliki arti perkataan. Menurut ahli
bahasa, Kalam adalah sesuatu yang
tersusun dan berfaidah. Artinya, ketika manusia berkalam sesungguhnya mansusia
sedang berkata-kata. Bilamana kata-kata itu tersusun (dirangkai menjadi satu
kesatuan) maka akan menyiratkan makna atau arti tertentu. Dengan demikian, kalam
merupakan wasilah bagi manusia untuk berkomunikasi dan menyampaikan maksud dan
tujuannya kepada manusia lainnya. Setiap kalam menyirtatkan makna tertentu,
sebagai bentuk penyampaian kehendak. Dengan berkalam manusia saling mengerti
satu dengan yang lainnya. Bersepakat maupun tidak bersepakat akan sesuatu hal.
Persoalan
muncul ketika kalam itu salah dimengerti oleh pihak lainnya. Ada banyak sebab
tejadinya gagal paham (Miss
Communication) antara mereka yang saling bicara, diantaranya adalah
disebabkan oleh lemahnya kemampuan nalar seseorang terhadap sususan atau bentuk
bahasa yang rumit, tidak fokus (lalai) ataupun disebkan oleh ganguan psikologis
seperti, emosional. Persoalan lainnya adalah manusia menyalahgunakan wasilah
kominikasi mereka tersebut (kalam) untuk mengambil keuntungan pribadi/kelompok
semata secara brutal, dalam kondisi
tertentu hal ini disebut sebagai dusta. Pun demikian tidak selamanya dusta itu
bermakna negatif, tergantung pada situasi dan kondisi serta kebijaksanaan terhadap
persoalan yang dihadapi.
Berbeda
dengan dusta, berkalam sesuai apa yang dilihat, dirasakan dan didengar yang
demikian ini dinamakan jujur. Adapun Jujur masih pada tahap sikap semata, sedangkan
kejujuran merupakan metamorfosa dari sikap jujur. Artinya nilai kejujuran itu maujud atau hadir ketika sikap jujur itu
terejawantahkan. Jujur adalah sikap benar yang tidak menyelisihi fakta. Marwah (Muruwah)
kejujuran akan begitu dirasakan ketika jujur itu diimplementasikan tepat pada
tempatnya.
Jujur
tidak selamnya dibenarkan secara moralitas. Seorang laki-laki yang rupawan
tidaklah dibenarkan secara moral untuk membuli atau mengejek laki-laki lain
yang memilki rupa kurang rupawan. Diakui atau tidak rupawan atau tidak adalah
soal selera. Dengan ini kami katakan tidak ada yang memungkiri ketampanan Nabi
Yusuf ‘Alihissalam di zamannya. Adakah wanita dizaman itu yang melihatnya
secara langsung untuk mengeluarkan pendapat lain soal ketampanan Nabi Yusuf ?.
tentu tidak. Terputusnya jari-jemari mereka dengan melihat wajah Nabi Yusuf sudah
menjadi bukti bahwa mereka menolak pendapat lain soal ketampanan selain dari
Nabi Yusuf a.s. Pada kondisi tertentu rupawan atau tidak sunggulah terukur jua.
Kalam Dusta dan Kalam Jujur benar diutarakan jika tepat pada tempatnya. Karena dusta disaat tertentu menghadirkan manfaat dan Jujur disaat tertentu menghadirkan mudhorat (bencana).
Pengantar
Kedustaan dan Kejujuran adalah kalam. Dusta dan Jujur terwujud karena hadirnya
kalam. Manusia sebagai makhluk yang berkalam sudah selayaknya bepikir terhadap
apa yang akan diucapkannya. Karena hidup bukan sekedar “bercakap-cakap sampah”,
maka pikirkanlah apa yang akan diucapkan. Karena setiap yang diucapkan selalu
diringi nilai kejujuran atau nilai kedustaan. Jujur dan dusta sarat akan makna
penghormatan dan penghinaan. Dengan kalam, sesuatu yang buruk dapat menjadi
baik, begitu juga sebaliknya sesuatu yang baik dapat menjadi buruk karena cakap
yang salah dan tak berumutu. Maka pergunakanlah kalam itu dengan bijaksana.
Tidakkah kau berpikir bahwa semua terjadi karena kalam-Nya jua yang berbunyi “Kun Fa Yakun” (terjadi maka terjadilah) ?. Lantas mengapa ada diantara kita yang tidak menghargai kalam yang diucapkan ?. Secara gelap kita sesuka hati mengucapkan sesuatu. Si bijak berkata: “bahasa (kalam) dapat menujukkan kelas seseorang”. Jika demikian, kalam penghinaan atas sesuatu yang tak berdasar sungguh hinaan itu teramat cukup untuk menggambarkan si penghina. Begitu sebaliknya, jika pujian itu berada diatas sesuatu yang patut untuk sanjung, maka pujian itu akan kembali pada si penyanjung. Sesorang yang mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan-Nya seraya bertasbih sungguh pujian itu akan kembali padanya, karna Tuhan-Nya ridho atas dirinya. Jikalau yang dipuji kembali memuji maka kalam pujian pertama penuh untuk dia yang mengucapkan. Begitulah hidup para pecinta baginda Nabi, mereka mendendangkan puji-pujian seraya bersyair memuji yang dipuji oleh Allah SWT maka pujian itu akan kembali padanya sebagai hamba yang padai bersyukur atas sebaik-baiknya nikmat.
Pontianak,
28 April 2018
A.A.S.A
Komentar
Posting Komentar